BUNG !
Febri Alamsyah
“Bung yang terbaik diantara sekian kandidat politik !” sang ketua partai menepuk pundaknya dalam jumawa licik.
Ia tersenyum miris, sebuah cek yang diserahkannya bertitel sumbangan adalah hasil hutangan. Atas nama pengembangan partai dengan imbalan nomor urut jadi calon legislatif didapatkannya.
“Bung telah bangkitkan batang terendam, komunitas kita banyak dalam hitungan, tetapi berserak saat pemilihan. Kita harus ikat buhul persatuan itu dengan Bung sebagai ikon !” ketua partai berpidato berapi-api dihadapan banyak kader yang memenuhi kantor sebuah ruko yang mati-matian ia kontrak setahun yang baru dibayar enam bulan.
“Yang penting Bung harus dapatkan suara pemilih 30 % dari quota, Bung akan melenggang ke parlemen !” berbuih sudah mulut sang ketua partai menyakinkan, bahkan dengan memegang tenggorokkan segala.
Sang kandidat legislatif cepat arif dengan bahasa isyarat itu, sok parlente tapi dengan hati mengumpat dihubungnyai rumah makan langganan untuk memesan minuman.
“Bung harus turun ke bawah, sosialisasi ke
“Hm, rokok pun tinggal …” si ketua meraba kantongnya yang jelas kosong.
Dengan kearifan terpaksa si Bung mengeluarkan uang seratus ribu, “Belikan rokok !” perintahnya pada seorang kader yang wajahnya layak disuruh.
“Semua bos !” timpalnya basa-basi tak perlu.
Si Bung mengangguk kecut.
“Pencitraan, ya pencitraan ; Bung harus kita poles. Media
Yang lain mengangguk-angguk seperti kerbau dicucuk hidung. Minuman yang baru datang tandas seketika, kantor partai berlantai dua itu dipenuhi hampir seratus orang penggembira.
“Hm, sudah tinggi pula matahari, sudah berbunyi pula kampung tengah !” seorang yang pakai jaket partai kedodoran bersuara.
Si Bung sang kandidat legislatif tersindir telak, ia juga merasa sama. Lapar karena sedari tadi mendengar ocehan sang ketua partai. “Ya, tolong antar seratus bungkus !” pesannya lemah pada restoran langganan dengan menahan carut di hati.
“Kita harus curi star, paling tidak Bung harus telah mulai dengan mencetak kartu nama. Saya pun punya kenalan untuk urusan ini, makin banyak dicetak makin murah harganya !” sang ketua partai masih menyempatkan bicara disela decak lahapnya menyantap makanan.
“Tidak kartu nama saja, ini momen yang tetap saat pergantian tahun. Kalender yang memuat photo dan pesan politik bernas Bung harus kita cetak dan diedarkan cepat pada pemilih potensial. Saya punya peta pemilih potensial pada daerah pemilihan yang Bung ikuti !” seorang tua yang dikenal sebagai penasehat partaipun ikutan nimbrung, mulut ompongnya belepotan remah nasi, tak sedap dipandang.
Si Bung terdiam dengan beragam fikiran, kepalanya penuh dengan hitungan angka-angka rupiah yang akan dikeluarkan.
“Bung tidak usah cemas, kalau di “menej” dengan baik, percayalah apa yang Bung inginkan untuk duduk di kursi dewan akan kesampaian !” si ketua partai memangkas kisruhnya.
Si calon legislatif tersenyum masam.
“Awas, tolong beri jalan .... !” terdengar ramai teriakan.
“Itu wartawan dan kameraman tivi, tolong beri luang ….!” Suara lain bising terdengar.
“Hm, untuk ini saya sudah kondisikan agar Bung diekspos media !” si ketua partai mengedipkan mata.
Si Bung gagap tersedak, merapikan rambut dengan hati mengkerut ; walau semula sudah terbayang olehnya konsekwensi terjun ke politik, tapi tidak se-mendadak ini.
Dan wawancara itu berlangsung dengan monopoli bicara ketua partai, tentang janji, tentang keinginan mengisi demokrasi, penuh basa-basi.
“Ssst, biar komentar Bung besok menggigit dan jadi headline tolong sekedar uang transportasi pada si wartawan !” ketua partai berbisik menyodorkan amplop kosong.
Dengan diam-diam ia mengeluarkan isi dompet yang sudah mengempis dan mengisi amplop yang disodorkan.
“Hm, saudara-saudara separtai dan seperjuangan. Kita harus sama rasa, sakit senang kita tanggung bersama, ke lurah sama menurun ke bukit sama mendaki. Tak mungkin kita biarkan si Bung yang kita cintai ini menanggung semua biaya dan sibuk sendiri. Kita harus punya andil, kita harus berkorban ….” Si ketua partai berpidato kencang ketika wartawan telah pergi.
“Kita akan meriahkan
“Ya, ya …. Kami akan bantu ! Yang penting bendera dan tiangnya disediakan !” seorang yang bertubuh ceking membalas dengan antusias.
“Bung dengar, betapa siapnya kader kita membantu. Yang penting Bung bayar uang muka cetak bendera saja dulu ….” Si ketua memancing uang keluar lagi.
Si Bung malu hati, seratusan kader dan simpatisan siap berkorban, siap pancang bendera dimanapun. Tapi wajahnya meringis, teringat isi dompet yang menipis. Di desak di depan orang ramai Si Bung juga tak ingin kehilangan gengsi, walau dalam omel di hati disuruhnya sekretaris partai yang sudah dikenalnya untuk mengambil uang sisa di ATM dengan menuliskan nomor PIN, ia sudah percaya, mungkin itu uang terakhirnya yang ada di ATM.
“Oh, ya …. Bagaimana koordinasi dengan pengurus pusat, jangan sampai lupa !” penasehat partai, lelaki tua ompong mengingatkan sang ketua.
“Ah, hampir lupa karena begitu semangatnya saya ingin mendudukkan Bung kita ini !” ketua partai coba memegang ponsel bututnya. “Eh, maaf Bung, lagi PH, pulsa habis he he … Bisa pinjam ponselnya untuk menghubungi pengurus pusat !” ketua partai pinjam ponsel Si Bung kandidat.
Dan dengan bahasa yang dibuat se-trend mungkin, sang ketua bicara ini-itu dengan pengurus pusat, penuh semangat dan selalu merasa sanggup membesarkan partai, siap berkorban demi partai sampai titik darah penghabisan. Dan tut … tut percakapan putus, pulsa pun habis karena kelamaan bicara.
“Tidak apa, kita sudah dapat arahan. Jaket dan baju kaos partai akan di kirim dari pusat. Kalian harus pakai dan bagikan pada pemilih potensial nantinya. Biaya jaket dan kaos akan ditanggung secara proporsional oleh para caleg yang maju, termasuk Bung kita ini ! Kita bangga dan salut pada Bung ini yang rela berkorban tanpa pamrih !” ketua partai memuji menghantam.
Si Bung menarik nafas berat, beban fikiran juga berat, dicobanya tersenyum dengan merasa diri sudah sebagai wakil rakyat. Pujian ketua partai membuatnya terbuai. Ia ingin menampilkan sikap sebijak mungkin, walau duit di kantong sudah tak ada, ia coba tetap wibawa.
Ia mohon pamit, bukan karena apa-apa, karena ketiadaan duit, ia masih mencoba meneriakkan yel-yel partai saat menuju mobil dengan kening mengerinyit.
Siang garang memanggang, si Bung cepat menghindar dari kantor partai yang menguras isi sakunya jadi kerontang.
Tiba-tiba mobilnya berjalan terangguk-angguk. Ah, ia melirik tanda menyala merah BBM, tandas … Ia menepikan mobil dengan keringat menderas. Lupa, karena buru-buru tadi pagi untuk menepati janji di kantor partai, ia sampai tak sempat mengisi bahan bakar.
Ampun, ia menyalahkan diri sendiri. Mobil mogok, surat-surat mobil ini pun telah tergadai, duit di dompet pun ludes demi gengsi. Si Bung ingin telepon istrinya, walau tahu perempuan itu akan mengomel karena kemaren ia merayu untuk menjual gelang emas satu-satunya, yang duitnya ia masukkan ke tabungan, yang barusan ludes untuk uang muka bendera dan kaos partai.
Busyet, ponselnya tak bisa digunakan untuk meminta bantuan istrinya karena pulsanya habis di pakai ketua partai untuk menghubungi pengurus pusat tadi. Ia terduduk lemas. Meracau tak puas.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada nomor yang tak dikenalnya memanggil. Mana tahu bisa minta bantuan, sigap diangkatnya.
“Halo, maaf saya ketua partai, ini nomor kawan saya pakai. Eh, Bung ada yang saya lupa tadi, untuk kedatangan pengurus pusat empat hari lagi tolong Bung bantu tiket pesawat cuma-cuma delapan orang …… “
Si Bung lunglai.
“Bung …. Halo Bung ini demi partai ….!”
Si Bung terkulai.
“Bung … Halo Bung ….. ?”
Si Bung jatuh tupai eh …. tapai !
++++++====++++++
Buat seorang kawan,
kandidat dewan yang terhormat,


