Febri Alamsyah
Bermula dari sebuah pertemuan aneh bak mimpi. Engkau datang, membuat sekian kenangan dan kemudian menjauh di tempat yang sulit kurengkuh.
”Aku yang berbaju coklat ...” jelasmu lewat handphone di bandara.
Aku tajam mengamati setiap penumpang yang keluar di terminal kedatangan.
”Q ...” salammu seraya sebutkan nama singkat ketika kumelambai ragu.
Aku terdiam, menatap dengan beragam rasa, dengan bejibun tanya. Kaku kupersilahkan engkau ke jeep tua antikku, lalu mengajakmu berkeliling kota. Hai, segalanya berjalan begitu cepat, kota kecilku sebagai penghasil minyak di jantung Sumatera terasa semakin sempit. Sekian sudutnya telah terjelajahi dalam hitungan menit.
”Walau samar, aku telah mengenalmu lewat sekian tempat yang kita kunjungi !’ simpulmu ketika kusuruh beristirahat di gubukku di batas kota, dengan kondisi centang perenang tak tertata.
Aku hanya tersenyum, senyum yang selama ini mengirap entah kemana. Ya, sejak perjalanan hidupku terluka, karena hilangnya cinta oleh takdir Yang Maha Kuasa. Dengan caraku yang dosen komunikasi, aku telah membawamu ke kampusku, ke tempat makan favoritku, ke sekolah dua bidadariku dengan pergaulan sedikit ”borjuis” para orang tuanya. Dan engkau perlahan mengenalku, kita jadi tak asing dengan mengenal lingkungan masing-masing.
”Rumah ini perlu sentuhan tangan seorang wanita !” tukasmu tanpa sungkan membersihkan tempatku yang awut-awutan, semuanya engkau basuh, karpet lusuh, sudut kumuh dan tuhan ... itu membuatku tersadar lagi akan kehidupan normal.
Semua mengalir begitu saja tanpa direncanakan, sampai semangatku timbul mengajakmu menghabiskan liburan di tempat aku dilahirkan. Sebuah ranah indah dengan budaya matrilineal yang hampir punah.
”Cinta membuatku jadi pecundang ...” engkau mulai berterus terang tatkala pagi dengan dingin mencucuk di pelataran ”Jam Gadang”.
Seperti biasa, aku hanya diam menyimak keluhmu. Betapa tak bersahabatnya cinta kala tulusnya teracuhkan. Engkau dengan keceriaanmu ternyata menyimpan lara yang bertimbunan.
”Aku letih oleh kesetiaan yang berakhir perih ...” tukasmu lirih, kala di ”Lereng Gunung Sago” yang diselimuti kabut putih.
Aku menatap hiba padamu yang bersimbah airmata, betapa berat duka yang engkau tanggung, betapa aku ingin singkirkan semuanya tapi sungguh aku amat canggung. Entah darimana aku harus memulainya, aku jadi bingung ...
”Hari-hariku adalah hari-hari yang risau ...” tukukmu galau kala usai shalat berjamaah di tepi ”Danau Maninjau.”
Entahlah, aku begitu bersimpati padamu. Tentang masa kecilmu yang dirundung susah, tentang pemberontakan di rumah, sampai akhirnya tentang kisah kasih yang berakhir terberai seperti remah.
”Hatiku sansai oleh kasih yang tak sampai ...” isakmu dengan airmata berurai kala di ”Air Terjun Lembah Anai.”
Aku jadi tak tahan melihat kesedihan, makin banyak kutahu, makin ingin kulindungi engkau. Ceritamu tentang tinggal di rumah yang tak ramah, hidup bagai terjajah, membuatku gundah. Aku sangat ingin semuanya berubah !
”Aku ingin pergi dari situasi yang membuat sesak, aku sudah muak ...” ujarmu di sela isak, saat sore di pinggir ”Danau Singkarak”.
Kubiarkan engkau menumpahkan segala keluh kesah, kutak ingin hanya kau sekedar bersandar di bahuku, aku ingin dekap engkau untuk melebur segala susah, membawamu lepas dari masalah. Sungguh tak kunyana, kehadiran cinta masa lalu dari orang yang kau cinta, suguhkan tuba.
”Aku ingin hidupku kembali nyaman ...” pintamu putus asa di ”Pantai Pariaman.”
Kurangkul engkau dengan hiba, kubiarkan engkau lelap di malam-malam yang terlalui dalam igau yang mulai reda, ‘kan terus kujaga. Perlahan tapi pasti, hati kecilku berdetak lain, aku ingin sudahi segala cerita dengan berakhir indah, sangat ingin malah. Dalam setiap shalat mulai khusuk berdoa, semoga pencipta kembali sua-kan hati yang pernah kusut masai karena asmara bertragedi.
“Aku besok pulang ...” sentakmu kala larut di “Pantai Padang”.
Aku terkesiap, sungguh tak siap. Putusanmu tak berubah walau telah kudekap erat. Huh, perpisahan selalu hadirkan hal yang tak sedap.
Betapa inginnya aku menahanmu, menawarkan sebuah naungan dalam pengertian lebih, mengajakmu bersisian menelusuri perjalanan masa depan. Sebuah pengharapan yang mungkin berlebihan.
”Terimakasih untuk segalanya, Uda ... aku pulang ke Jakarta !” pamitmu pagi buta di bandara kota yang baru diamuk gempa.
Aku hanya bisa memandang gamang, kala pelukmu merenggang ...
Hatiku kembali lengang !
Pekanbaru-Padang 2009
Desember akhir bernuansa getir
Judul Cerpen yang lain :
Bung !
Bermula dari sebuah pertemuan aneh bak mimpi. Engkau datang, membuat sekian kenangan dan kemudian menjauh di tempat yang sulit kurengkuh.
”Aku yang berbaju coklat ...” jelasmu lewat handphone di bandara.
Aku tajam mengamati setiap penumpang yang keluar di terminal kedatangan.
”Q ...” salammu seraya sebutkan nama singkat ketika kumelambai ragu.
Aku terdiam, menatap dengan beragam rasa, dengan bejibun tanya. Kaku kupersilahkan engkau ke jeep tua antikku, lalu mengajakmu berkeliling kota. Hai, segalanya berjalan begitu cepat, kota kecilku sebagai penghasil minyak di jantung Sumatera terasa semakin sempit. Sekian sudutnya telah terjelajahi dalam hitungan menit.
”Walau samar, aku telah mengenalmu lewat sekian tempat yang kita kunjungi !’ simpulmu ketika kusuruh beristirahat di gubukku di batas kota, dengan kondisi centang perenang tak tertata.
Aku hanya tersenyum, senyum yang selama ini mengirap entah kemana. Ya, sejak perjalanan hidupku terluka, karena hilangnya cinta oleh takdir Yang Maha Kuasa. Dengan caraku yang dosen komunikasi, aku telah membawamu ke kampusku, ke tempat makan favoritku, ke sekolah dua bidadariku dengan pergaulan sedikit ”borjuis” para orang tuanya. Dan engkau perlahan mengenalku, kita jadi tak asing dengan mengenal lingkungan masing-masing.
”Rumah ini perlu sentuhan tangan seorang wanita !” tukasmu tanpa sungkan membersihkan tempatku yang awut-awutan, semuanya engkau basuh, karpet lusuh, sudut kumuh dan tuhan ... itu membuatku tersadar lagi akan kehidupan normal.
Semua mengalir begitu saja tanpa direncanakan, sampai semangatku timbul mengajakmu menghabiskan liburan di tempat aku dilahirkan. Sebuah ranah indah dengan budaya matrilineal yang hampir punah.
”Cinta membuatku jadi pecundang ...” engkau mulai berterus terang tatkala pagi dengan dingin mencucuk di pelataran ”Jam Gadang”.
Seperti biasa, aku hanya diam menyimak keluhmu. Betapa tak bersahabatnya cinta kala tulusnya teracuhkan. Engkau dengan keceriaanmu ternyata menyimpan lara yang bertimbunan.
”Aku letih oleh kesetiaan yang berakhir perih ...” tukasmu lirih, kala di ”Lereng Gunung Sago” yang diselimuti kabut putih.
Aku menatap hiba padamu yang bersimbah airmata, betapa berat duka yang engkau tanggung, betapa aku ingin singkirkan semuanya tapi sungguh aku amat canggung. Entah darimana aku harus memulainya, aku jadi bingung ...
”Hari-hariku adalah hari-hari yang risau ...” tukukmu galau kala usai shalat berjamaah di tepi ”Danau Maninjau.”
Entahlah, aku begitu bersimpati padamu. Tentang masa kecilmu yang dirundung susah, tentang pemberontakan di rumah, sampai akhirnya tentang kisah kasih yang berakhir terberai seperti remah.
”Hatiku sansai oleh kasih yang tak sampai ...” isakmu dengan airmata berurai kala di ”Air Terjun Lembah Anai.”
Aku jadi tak tahan melihat kesedihan, makin banyak kutahu, makin ingin kulindungi engkau. Ceritamu tentang tinggal di rumah yang tak ramah, hidup bagai terjajah, membuatku gundah. Aku sangat ingin semuanya berubah !
”Aku ingin pergi dari situasi yang membuat sesak, aku sudah muak ...” ujarmu di sela isak, saat sore di pinggir ”Danau Singkarak”.
Kubiarkan engkau menumpahkan segala keluh kesah, kutak ingin hanya kau sekedar bersandar di bahuku, aku ingin dekap engkau untuk melebur segala susah, membawamu lepas dari masalah. Sungguh tak kunyana, kehadiran cinta masa lalu dari orang yang kau cinta, suguhkan tuba.
”Aku ingin hidupku kembali nyaman ...” pintamu putus asa di ”Pantai Pariaman.”
Kurangkul engkau dengan hiba, kubiarkan engkau lelap di malam-malam yang terlalui dalam igau yang mulai reda, ‘kan terus kujaga. Perlahan tapi pasti, hati kecilku berdetak lain, aku ingin sudahi segala cerita dengan berakhir indah, sangat ingin malah. Dalam setiap shalat mulai khusuk berdoa, semoga pencipta kembali sua-kan hati yang pernah kusut masai karena asmara bertragedi.
“Aku besok pulang ...” sentakmu kala larut di “Pantai Padang”.
Aku terkesiap, sungguh tak siap. Putusanmu tak berubah walau telah kudekap erat. Huh, perpisahan selalu hadirkan hal yang tak sedap.
Betapa inginnya aku menahanmu, menawarkan sebuah naungan dalam pengertian lebih, mengajakmu bersisian menelusuri perjalanan masa depan. Sebuah pengharapan yang mungkin berlebihan.
”Terimakasih untuk segalanya, Uda ... aku pulang ke Jakarta !” pamitmu pagi buta di bandara kota yang baru diamuk gempa.
Aku hanya bisa memandang gamang, kala pelukmu merenggang ...
Hatiku kembali lengang !
Pekanbaru-Padang 2009
Desember akhir bernuansa getir
Judul Cerpen yang lain :
Bung !


Tidak ada komentar:
Posting Komentar